News Ticker

Menu

Profesor dan Doktor Unnes Diminta Mendampingi Organisasi Orang Tua

Program Profesor and Doctor Go to School yang diselenggarakan Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebaiknya tidak hanya menjangkau guru. Untuk memastikan implementasi Kurikulum 2013 berjalan baik, para profesor dan doktor juga disarankan mendampingi orang tua, kelompok ibu-ibu, agar turut mendorong putranya belajar.

Permintaan tersebut disampaikan Guru Bimbingan dan Konseling (BK) Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Slawi Sri Lestari MPd saat Dr Edy Purwanto menggelar Profesor and Doctor Go to School di Kabupaten Tegal, Rabu (7/5) di SMA Negeri I Slawi. Dalam acara yang bertema “Program peminatan dalam kurikulum 2013 : Urgensi dan Penyelenggaraannya” itu hadir ratusan Kepala Sekolah dan Guru BK se Kabupaten Tegal.

Permintaan ini memiliki dasar didaktik. Sebab, keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 juga ditentukan oleh kerja sama orang tua. Selain itu, program peminatan dalam kurikulum 2013 untuk jenjang SMA dilihat berdasarkan rapor dan minat anak.

“Kalau nilai sudah tinggi bisa langsung sesuai minatnya, tapi kalau tidak tentu saja perlu bimbingan dari orang tua,” kata Sri Lestari.

Pendapat itu dikuatkan Kepala SMA Negeri 1 Slawi Dra Mimik Supriyatin. Ia meragukan sistem peminatan sejak kelas X bisa berjalan baik jika hanya mengandalkan guru BK. Oleh karena itu, pendampingan oleh orang tua dinilai sangat penting.

“Dalam kurikulum sekarang, anak diberi kesempatan untuk mengukur diri jadi tidak langsung penjurusan. Saya tidak kuat di Fisika maka masuk jurusan lain. Tapi kalau sekarang sangat mengandalkan pengarahan guru BK meskipun ada landasan nilai rapor SMP,” ujar Mimik Suprihatin.

Menanggapi hal itu, Dr Edy Purwanto menjelaskan Kurikulum 2013 untuk jenjang SMA memakai sistem peminatan dengan tiga pilihan yaitu Matematika, IPA, IPS, serta Bahasa dan Kebudayaan. Para siswa SMA memilih peminatan sejak duduk di kelas X. Seleksi peminatan akan dilakukan berdasarkan nilai rapor SMP dan wawancara oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK).

“Peminatan dilihat berdasarkan rapor dan minat anak. Kalau nilai sudah tinggi bisa langsung sesuai minatnya, tapi kalau tidak harus dilihat betul dari wawancara guru BK,” kata Dr Edy yang juga Ketua Jurusan BK Unnes itu.

Edy menjelaskan kurikulum baru tidak lagi memakai istilah penjurusan tetapi peminatan. Menurutnya, sistem penjurusan di SMA selama ini hanya didasarkan nilai saja tanpa mempertimbangkan minat siswa. “Tujuannya supaya anak berkembang sesuai keinginan atau minatnya. Selama ini berdasarkan nilai saja belum tentu anak minat kesana,” ujarnya.

Edy mengakui bisa terjadi penumpukan jumlah siswa di satu minat. Oleh karena itu, sekolah perlu melakukan tes wawancara oleh guru BK agar setiap peminatan sesuai kuota. Terkait teknis pembelajaran, dia memberi kebebasan kepada sekolah. Sekolah bisa menerapkan siswa yang pindah kelas (moving class) seperti di jenjang perguruan tinggi atau siswa tetap berada di kelas seperti yang saat ini berlaku.

“Mari kita bantu siswa masuk peminatan yang tepat agar mereka mampu bersibuk diri dan berprestasi sesuai potensi diri, untuk mewujudkan generasi Indonesia emas 2045,” pungkasnya

Sumber : Unnes.ac.id

Share This:

Post Tags:

Jillur Rahman

I'm Jillur Rahman. A full time web designer. I enjoy to make modern template. I love create blogger template and write about web design, blogger. Now I'm working with Themeforest. You can buy our templates from Themeforest.

No Comment to " Profesor dan Doktor Unnes Diminta Mendampingi Organisasi Orang Tua "

  • To add an Emoticons Show Icons
  • To add code Use [pre]code here[/pre]
  • To add an Image Use [img]IMAGE-URL-HERE[/img]
  • To add Youtube video just paste a video link like http://www.youtube.com/watch?v=0x_gnfpL3RM